Propellerads

Translate to your language

Showing posts with label Pangeran Diponegoro. Show all posts
Showing posts with label Pangeran Diponegoro. Show all posts

Tuesday, November 29, 2016

Sejarah Pangeran Diponegoro

Halo apa kabar para pengunjung Catatan Callysta?

Pada kesempatan yang lalu saya telah berbagi pengetahuan yaitu tentang Cerita Rakyat : Batu Menangis. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi tulisan lagi. Postingan saya kali ini adalah tentang sejarah seorang tokoh. Tulisan saya ini saya beri judul Sejarah Pangeran Diponegoro. Bagiaman ceritanya, mari kita simak bersama. 

Pangeran Diponegoro

Diponegoro adalah putera sulung Hamengkubuwono III, raja Mataram di Yogyakarta. Ibunya bernama R.A. Mangkarawati, seorang garwa ampeyan (isteri nonpermaisuri) yang berasal dari Pacitan. Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Ontowiryo.  Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hemengku-buwono III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Beliau menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan, mereka membuat sayembara. Hadiah 50.000 gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada tahun 1830.

Pada tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro menemui Jenderal De Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Namun, Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan cermat. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, setelah itu dibawa ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada tanggal 5 April. 

Pada tanggal 11 April 1830, Diponegoro sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahilah). Pada tanggal 30 April 1830, keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnanigsih, Tumenggung Dipososno dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. Tahun 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makasar, Sulawesi Selatan. Pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Melayu Makassar

Demikianlah Sejarah Pangeran Diponegoro. Semoga bermanfaat. Silahkan shara ke teman-teman anda dan jangan lupa tinggalkan komentar demi kemajuan blog ini. 
_________________________________________________ 
Baca juga :

Saturday, January 4, 2014

Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830)

Halo apa kabar pengunjung Catatan Callysta?

Pada kesempatan yang lalu saya telah berbagi sedikit pengetahuan mengenai Macam-macam Otot. Pada kesempatan kali ini saya akan kembali berbagi pengetahuan yang berkaitan dengan Materi IPS. Tulisan saya kali ni adalah Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830).  

Latar belakang perlawanan Pangeran Diponegoro diawali dari campur tangan Belanda dalam urusan politik kerajaan Yogyakarta. Wafatnya Hamengkubuwono IV tahun 1822 menimbulkan perselisihan tentang siapa penggantinya. Saat itu, putra mahkota baru berumur 3 tahun. Penderitaan rakyat semakin menjadi, terutama kegagalan panen pada 1820-an. Di samping itu, rakyat sudah jenuh dengan perlakuan Belanda yang tidak pernah menghormati hak-hak rakyat. 

Belanda membangun jalan baru pada Mei 1825, dengan memasang patok-patok pada tanah leluhur Diponegoro. Terjadi perselisihan saat pengikut Diponegoro Patih Danureja IV mencabuti patok-patok tersebut. Belanda segera mengutus serdadu untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Pada 20 Juli, Tegalrejo direbut dan dibakar Belanda. Diponegoro berhasil meloloskan diri dan segera mengumandangkan Perang Jawa (1825-1830). Pemberontakan tersebut menjalar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, pusat perlawanan berada di kawasan Yogyakarta. Lima belas dari 29 pangeran bergabung mendukung Diponegoro. Belanda benar-benar terjepit. 

Belanda berusaha untuk membujuk pemberontak dengan memulangkan Hamengkubuwono II dari pengasingannya di Ambon. Akan tetapi, langkah ini gagal. Kemudian, Belanda mencoba untuk menerapkan siasat benteng-stelsel. Dengan sistem ini, Belanda mampu memecah belah jumlah pasukan musuh. 

Pada 1829, Kiai Maja ditangkap oleh Belanda. Kemudian, disusul Pangeran Mangkubumi dan Panglima Sentot Ali Basyah Prawiryodirjo. Setelah kekalahan ini, Sentot Ali Basyah terpaksa menjalankan tugas membantu Belanda dalam menumpas Perang Padri di Sumatra Barat. 

Pada Maret 1830, Diponegoro akhirnya mau mengadakan perundingan dengan Belanda di Magelang, Jawa Tengah. Perundingan tersebut hanya sebagai jalan tipu muslihat. Akhirnya Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke Makassar hingga wafat tahun 1855. Dengan berakhirnya Perang Jawa (Diponegoro), tidak lagi muncul perlawanan yang lebih berat di Jawa.

Demikianlah penjelasan singkat tentang Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830) Semoga bermanfaat. Silahkan share ke teman-teman anda dan jangan lupa tinggalkan komentar demi kemajuan blog ini.