Propellerads

Translate to your language

Saturday, January 4, 2014

Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830)

Halo apa kabar pengunjung Catatan Callysta?

Pada kesempatan yang lalu saya telah berbagi sedikit pengetahuan mengenai Macam-macam Otot. Pada kesempatan kali ini saya akan kembali berbagi pengetahuan yang berkaitan dengan Materi IPS. Tulisan saya kali ni adalah Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830).  

Latar belakang perlawanan Pangeran Diponegoro diawali dari campur tangan Belanda dalam urusan politik kerajaan Yogyakarta. Wafatnya Hamengkubuwono IV tahun 1822 menimbulkan perselisihan tentang siapa penggantinya. Saat itu, putra mahkota baru berumur 3 tahun. Penderitaan rakyat semakin menjadi, terutama kegagalan panen pada 1820-an. Di samping itu, rakyat sudah jenuh dengan perlakuan Belanda yang tidak pernah menghormati hak-hak rakyat. 

Belanda membangun jalan baru pada Mei 1825, dengan memasang patok-patok pada tanah leluhur Diponegoro. Terjadi perselisihan saat pengikut Diponegoro Patih Danureja IV mencabuti patok-patok tersebut. Belanda segera mengutus serdadu untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Pada 20 Juli, Tegalrejo direbut dan dibakar Belanda. Diponegoro berhasil meloloskan diri dan segera mengumandangkan Perang Jawa (1825-1830). Pemberontakan tersebut menjalar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, pusat perlawanan berada di kawasan Yogyakarta. Lima belas dari 29 pangeran bergabung mendukung Diponegoro. Belanda benar-benar terjepit. 

Belanda berusaha untuk membujuk pemberontak dengan memulangkan Hamengkubuwono II dari pengasingannya di Ambon. Akan tetapi, langkah ini gagal. Kemudian, Belanda mencoba untuk menerapkan siasat benteng-stelsel. Dengan sistem ini, Belanda mampu memecah belah jumlah pasukan musuh. 

Pada 1829, Kiai Maja ditangkap oleh Belanda. Kemudian, disusul Pangeran Mangkubumi dan Panglima Sentot Ali Basyah Prawiryodirjo. Setelah kekalahan ini, Sentot Ali Basyah terpaksa menjalankan tugas membantu Belanda dalam menumpas Perang Padri di Sumatra Barat. 

Pada Maret 1830, Diponegoro akhirnya mau mengadakan perundingan dengan Belanda di Magelang, Jawa Tengah. Perundingan tersebut hanya sebagai jalan tipu muslihat. Akhirnya Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke Makassar hingga wafat tahun 1855. Dengan berakhirnya Perang Jawa (Diponegoro), tidak lagi muncul perlawanan yang lebih berat di Jawa.

Demikianlah penjelasan singkat tentang Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830) Semoga bermanfaat. Silahkan share ke teman-teman anda dan jangan lupa tinggalkan komentar demi kemajuan blog ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi Catatan Callysta. Semoga bermanfaat. Saya sangat berterima kasih sekali jika pembaca berkenan untuk share ke G+1 dan meninggalkan komentar demi kemajuan blog saya.